Kamis, 17 April 2014

gangguan alam perasaan




ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN
GANGGUAN ALAM PERASAAN

ROLE PLAY
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Jiwa

Oleh
Kelompok 3
Anugrah Dwi Priyono
Diah Puji Lestari
Irvan Herliandi
M. Reksa Satria
Ranti Ratna Sari
Siti Marhamah
Widdy Bagea Munggaran
Description: Description: Description: Description: C:\Users\ACER\Downloads\STIKESMI.jpg
Kelas 2B
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
SUKABUMI
2014
 











BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Secara garis besar ada beberapa proses yang berperan dalam terciptanya perilaku manusia. Pertama adalah proses kondisi yang meliputi : sensasi, persepsi, perhatian, ingatan, asosiasi, pertimbangan, pikiran, dan kesadaran. Kedua adalah unsure kemauan, sedangkan yang ketiga adalah aspek emosi dan afek, serta yang terakhir adalah psikomotor.keempat komponen tersebbut pada kenyataannya merupakan suatu kesatuan yang sulit dipisah – pisahkan serta saling berinteraksi dalam lingkungan internal individu.
Perasaan mood merupakan bagian dari emosi dan afek. Seperti halnya kognitif, kemauan, dan psikomotor, maka emosi serta afek klien dapat mengalami gangguan.
1.2  Tujuan
a.      Tujuan umum
Setelah mengikuti seminar tentang gangguan alam perasaan ini peserta diharapkan mampu untuk mengetahui, melaksanakan dan memahami gangguan alam perasaan beserta asuhan keperawatannya
b.      Tujuan Khusus
1)      Mengetahui definisi gangguan alam perasaan.
2)      Mengetahui etiologi gangguan alam perasaan.
3)      Mengetahui patofisiologi gangguan alam perasaan.
4)      Mengetahui manifestasi klinis gangguan alam perasaan.
5)      Mengetahui pemeriksaan diasnotik gangguan alam perasaan
6)      Mengetahui penatalaksanaan gangguan alam perasaan.
7)      Mengetahui komplikasi gangguan alam perasaan.
8)      Mengetahui konsep asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan alam perasaan.


BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Pengertian Mood
Perasaan suasana hati yang mewarnai seluruh kehidupan psikis seseorang dan mempengaruhi seseorang dalam waktu yang lama. Misalnya seorang yang sedih malas untuk berkomunikasi, makan, bekerja, dan sebagainya.
a.       Menurut Stuart Laraia dalam Psychiatric Nursing (1998: 349);
Keadaan emosional yang memanjang yang mempengaruhi seluruh kepribadian individu dan fungsi kehidupannya. Hal ini berhubungan dengan emosi dan memiliki pengertian yang sama dengan keaadaan perasaan atau emosi. Seperti aspek-aspek lain dalam kepribadian, emosi atau mood berperan dalam proses adaptasi.
Ada empat fungsi adaptasi dari emosa yaitu bentuk komunikasi social, merangsang fungsi fisiologis, kesadaran secara subjektif, dan mekanisme pertahanan psikodinamis.
b.      Menurut John W.Santrok dalam Psychology The Science Of  Mind And Behavior (1991:490);
Gangguan alam perasaan adalah kelainan psikologis yang ditandai meluasnya irama emosional seseorang, mulai dari rentang depresi sampai gembira yang   berlebihan (euphoria), dan gerak yang berlebihan (agitation). Depresi dapat terjadi secara tunggal dalam bentuk mayor depresi atau dalam bentuk lain seoerti mania sebagai gangguan tipe bipolar.
c.       Menurut Patricia D.Barry dalam Mental Healt And Mental Illness (998:302);
Gangguan mental efektif (gangguan alam perasaan) meliputi kondisi mental yang menyebabkan perubahan alam perassaan seseorang (afek) atau keadaan emosional dalam periode waktu yang panjang. Perubahan keadaan emosional tersebut dapat berupa depresi, kegembiraan atau kombinasi dari berbagai siklus (tipe).
d.      Buskist Gerbing dalam Psychology Boundaries And Frontiers (1990:548);
Gangguan mood dapat dirinciksn dengan depresi yang dalam, atau kombinasi dari depresi dan gembira yang berlebihan. Dengan kata lain individu dengan kelainan mood selain depresi yang mendalam dapat berupa  periode elasi (keceriaan) dan depresi.
e.       Menurut Clinton Nelson dalam Mental Healt Nursing Practice (1996);
Gangguan mental yang memperlihatkan perubahan suasana perasaan menonjol dan menetap dan bersifat patologis. Sebagian besar gangguan alam perasaan berupa depresi dan mania. Alam perasaan (mood) merujuk pada keadaan emosional internal dari individu, seperti “saya merasa bahagia, saya marah, saya merasa sedih”. Affect merujuk pada tampilan luar dari ekspresi emosi seperti mimic wajah, atau postur tubuh yang menunjukan perasaan sedih atau marah.
2.2 Rentang Respon Emosi
 

Emotional responsive
Reaksi kehilangan yang wajar
supresi
Supresi reaksi kehlangan yang memanjang
Mania atau depresi

Rentang respon emosi seseorang yang normal bergerak secara dinamis. Tidak merupakan suatu titik yang statis dan tetap. Dinamis tersebut dipengaruhi oleh berbagai factor seperti organobiologis, psikoedukatif, sosiokultural. Pada klien yang mengalami gangguan alam perasaan, reaksinya cenderung menetap dan memanjang. Tetapi hal tersebut juga sangat tergantung pada tipe gangguan alam perasaannya. Apakah termasuk tipe manic, depresi, atau kombinasi dari keduanya. Rentang respon emosi bergerak dari emotional responsive sampai mania/depresi dengan cirri-ciri sebagai  berikut:

a.       Responsive
Klien lebih terbuka, menyadari perasaannya, dapat berpartisipasi dengan dunia internal (meahami harapan dirinya) dan dunia eksternal (memahami harapan orang lain).
b.      Reaksi kehilangan yang wajar
Klien merasa bersedih, kegiatan  sehari-hari klien berhenti (misalnya bekerja, sekolah) pikiran dan perasaan klien lebih berfokus pada diri sendiri tetapi seuma hal tersebut berlangsung hanya sementara.
c.       Supresi
Merupakan tahap awal diman coping individu termasuk maladatif, klien menyangkal perasaannya sendiri, klien berusaha menekan atau mengalihkan perhatiannya terhadap lingkungan. Apabila fase ini berlangsung terus menerus (memanjang) maka hal tersebut dapat mengganggu individu.
d.      Depresi
Gangguan alam perasaan yang ditandai dengan perasaan sedih yang berlebihan, murung, tidak bersemangat, perasaan tidak berharga, merasa kosong, putus harapan, selalu merasa dirinya gagal, tidak beminat terhadap ADL sampai ad aide bunuh diri.
2.3 Tipe Gangguan Alam Perasaan
Secara garis besar tipe gangguan dapat diklasifikasikan sebagai berikut: mood episode, depressive disorder, dan biopolar disorders.
a.       Mood episode
1)   Mayor depressive episode
Untuk diagnosis kelompok ini, terdapat 5 atau lebih gejala-gejala yang ditampilkan selama periode 2 minggu dan menampilkan perubahan fungsi dari fungsi sebelumnya paling sedikit dari gejala tersebut adalah salah satu dari 2 hal berikut yaitu perasaan depresif dan kehilangan ketertarikan terhadap kesenangan (pleasure). Tanda secara lengkap adalah sebagai berikut:
a)      Perasaan depresif lebih banyak dalam sehari, hamper setiap hari yang diindikasikan berdasarkan data subjektif atau hasil observasi.
b)      Menurunnya secara nyata minat terhadap kasenangan, hampir semua aktivitas dalam sehari atau hamper setiap hari.
c)      Kehilangan berat badan yang berarti meskipun tidak diet.
d)     Kesulitan tidur (insomnia) atau tidur yang berlebihan (hypersomnia).
e)      Terjadi peningkatan aktivitas psikomotor (psychomotor agitation) atau perlambatan motorik (retardation) hamper setiap hari.
f)       Kelelahan atau kehilangan energi hamper setiap hari.
g)      Perasaan- perasaan tidak berharga atau berlebihan atau perasaan berdosa yang berlebihan hampir setiap hari.
h)      Berkutangnnya kemampuan untuk berfikir atau konsentrasi, atau perasaan  ragu-ragu hampir ssetiap hari.
i)        Terus menerus berfikir tentang kematian, berulangnya ide-ide untuk bunuh diri tanpa perencanaan untuk palaksanaan bunuh dirinya.
2)   Manic Episode
Manic episode ditandai dengan periode gangguan yang nyata dan peningkatan secara menetsp, meluap-luap atau mood yang mudah terangsang (irritable) selama 1 minggu ( atau beberapa periode saat di rumah sakit juga penting). Selama periode gangguan, 3 atau lebih gejala-gejala berikut telah menetap dan telah  nampak dalam tingkat yang berarti :
a)   Melambungnya harga diri atau Grandoisity.
b)   Menurunnya kebutuhan untuk tidur.
c)   Lebih banyak bicara dibandingkan biasanya atau ada dorongan yang kuat untuk barbiacara.
d)  Ide yang meloncat (fligh of ideas) atau pengalaman subjektif bahwa ia berfikir meloncat.
e)   Perhatian yang mudah teralih (distractibility).
f)    Peningkatan dalam perilaku yang bertujuan atau agitasi psikomotor.
g)   Keterlibatan yang berlebihan dalam aktivitas yang menyenangkan yang berpotensi untuk mengakibatkan cedera.
Pada saat episode manic dimulai, penampilan klien menjadi meningkat, tidak rapi, lebih cepat secara fisik, dalam intelektual, dan emosional. Klien menjadi meningkat dalam aktivitas (restless) dan agresif. Aspek id terlihat  berlebihan, dan aspek super ego cenderung dilarang. Klien berfikir cepat dengan demikan ia menjadi mudah terlatih perhatiannya (distractibility). Hal ini memyebabkan adanya ide yang meloncat-loncat (fligh of ideas). Mood klien  menjadi gembira yang berlebihan (euphoria) dan berganti menjadi exaltation (gembira berlebihan yang disertai hiperaktivitas motorik) dan akhirnya mencapai puncaknya menjadi gelisah dan sangat gaduh. Klien dalam keadaan ini tidur dan makan sangat sedikit, kehilngan berat badan yang sangat cepat ia dapat memukul apa saja apabila dicegah menjadi marah.
3)   Tipe lainnya (other)
Tipe lain dari episode mood meliputi mixed episode dan hypomanic episode. Pada mixed episode, kriterianya merupakan perpaduan antara manic episode dan mayor depressive episode. Sedangkan pada hypomanic episode sacara jelas menunjukan meningkatnya mood yang berbeda dari mood nondepresif yang biasa tetapi tidak dikelompokkan sebagai episode manik.
b.      Depressive Disorders
1)      Mayor Depressive Disorders
a)      Mayor depressive disorders dapat berupa episode berulang atau episode tunggal. Hal ini dapat juga memiliki gambaran khusus seperti adanya penampilan diam, melamun (catatonic) atau melakolik atau menyertai kejadian post partum.
b)      Klien mengalami mayor depressive berbicara menjadi lambat, berhenti bicara (halting) cemas dan klien menjadi menyalahkan diri sendiri. Pada tipe episode depresuf gerakan klien menjadi lambat untuk duduk dikursi, kaku (rocking back), suara mengerang sedih (moaning dejectedly), dan lebih banyak duduk di lantai atau tempat tidur. Klien secara langsung bersikap agresi ke dalam dirinya sendiri dan kadang-kadang  menyalahkan diri sendiri, perasaan berdosa, dan bersalah didunianya. Kesengsaraannyasangat mendalam, selanjutnya setelah periode ini klien dapat mencoba bunuh diri.
2)      Dysthymic Disorder
Dalam diagnostic and statistical manual of mental disorders, kondisi kelompok ini dikenal dengan depresi neurois (neurotic depression ) kondisi ini ditandai dengan mood yang terdepresi dalam sebagian besar hari. Dua atau lebih gejala depresi berikut dapat ditampilkan : menurunnya napsu makan (poor appetite) kelelahan yang sangat (low energy level or fatigue), susah tidur berlebihan (insomnia or excessive sleeping), harga diri rendah (low self esteem), kesulitan konsentrasi atau kesulitan membuat keputusan ( poor concentration or difficulty making decision) dan perasaan putus harapan (feeling hopelessness).
c.       Bipolar Disorders
1)        Bipolar Disorders
klien dengan tipe bipolar mendemonstrasikan kekuatan, meluap-luap dan menggambarkan siklus irama mood. Bentuk yang ditemukan dalam tipe gangguan mental ini adalah kapanpun mengalami keadaan meluap-luap selama waktu satu mingu atau satu bulan.
2)        Cyclothymic Disorders
Individu dengan kelainan ini cenderung untuk mengalami irama mood diantara keriangan dan depresif.

2.4 Perbedaan Mania dan Depresi
Kedua hal ini merupakan respon emosi yang mal adaptif berat dan dapat dikenal melalui intensitas, rembetan, terus-menerus dan pengaruhnya pada fungsi sosial dan fisik individu. Istilah depresi dipakai untuk tanda dan gejala keadaan klinik sesungguhnya.
Gangguan alam perasaan menurut DSM –III R. Dibagi dalam dua kategori (dikutip dari Wilson dan Kneisl,1987,hlm 428) yaitu :
1.      Gangguan bipolar  :
a)      Gangguan bipolar (campuran manik,depresi).
b)      Siklotimia.
2.      Gangguan depresi
a)      Major depresi ( satu episode,berulang).
b)      Distimia.
2.5    Gejala Gangguan Mood Depresi
Gangguan depresi ditandai perasaan sedih yang berlebihan,murung,tidak bersemangat,merasa tidak di hargai,merasa kosong dan tidak ada harapan, berpusat pada kegagalan dan menuduh diri,dan di sertai ide dan pikiran bunuh diri.klien tidak berminat pada pemeliharaan diri dan pada aktivitas sehari-hari.
Gangguan mania ditandai oleh perasaan hati yang meningkat,meluas dan mudah tersinggumg klien tidak mengenal lelah,hyperaktif dan pada keadaan yang berat disertai panik yaitu perilaku yang tidak terkontrol.
Depresi adalah salah satu bentuk gangguan jiwa pada alam perasaan   ( afektif,mood) yang di tandai kemurungan,kesedihan,kelesuan,kehilangan gairah hidup,tidak ada semangat dan merasa tidak berdaya,perasaan bersalah atau berdosa dan tidak berguna dan putus asa.gejala lain yang sering menyertai gangguan mood adalah:
a)        Sulit konsentrasi dan daya ingat menurun
b)        Nafsu makan dan berat badan menurun
c)        Gangguan tidur (sulit tidur atau tidur berlebihan)di sertai mimpi-mimpi yang tidak menyenangkan,misal: mimpi orang yang sudah meninggal.
d)       Agitasi atau retardasi motorik (gelisah atau perlambatan gerakan motorik).
e)        Hilang perasaan senang,semangat,minat dan meninggalkan hobby.
f)         Kreatifetas dan produktifitas menurun.
g)        Ganggua seksual (libido menurun)
h)        Pikiran-pikiran tentang kematian dan bunuh diri.
Bila seseorang lebih rentan untuk menderita depresi di bandingkan orang lain,biasanya yang bersangkutan mempunyai corak kepribadian sendiri. (diri kepribadian depresif,)dengan ciri-ciri:
a)        Mereka sukar untuk merasa bahagia, mudah cemas, gelisah dan kawatir, irritable, tegang dan agitatif.
b)        Mereka yang kurang percaya diri, rendah diri mudah mengalah dan lebih senang untuk berdamai, menghindari konflik atau konfrontasi merasa gagal dalam usaha atau sekolah lamban, lemah, lesu, atau sering mengeluh sakit ini dan itu.
c)        Pengendalian dorongan dan impuls terlalu kuat menarik diri lebih suka menyisih sulit ambil keputusan, enggan bicara, pendiam dan pemalu.
d)       Suka mencela, mengeritik, menyalahkan orang lain atau menggunakan mekanisme pertahanan penyangkalan.












BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN ALAM PERASAAN
3.1 Pengkajian
Pengkajian dilakukan dengan cara mengidentifikasi faktor presdisposisi,perubahan perilaku,sumber stressor,mekanisme koping,sumber koping dan penilaian stressor.
A.    Faktor predisposisi dan presipitasi
1.        Faktor predisposisi
Beberapa teori di temukan untuk menjelaskan gangguan alam perasaan.Faktor predisposisi yang dapat menyebabkan gangguan alam perasaan adalah:
a.    Faktor genetik.
Mengemukakan transmisi gangguan alam perasaan diteruskan mulai garis keturunan.
b.    Teori agresi berbalik pada diri sendiri.
Mengemukakan bahwa depresi diakibatkan oleh perasaan marah yang dialihkan pada diri sendiri.
c.    Teori kehilangan.
Menunjukkan adanya perpisahan yang bersifat traumatis dengan orang yang di cintai.
d.   Teori kepribadian.
Mengambarkan bagaimana konsep diri yang negatif dan harga diri yang rendah mempengaruhi kepercayaan dan penilaian terhadap stressor.
e.    Teori kognitif
Mengemukakan bahwa depresi adalah masalah kognitif yang di dominasi oleh penilaian negatif terhadap diri sendiri,lingkungan dan masa depan.
f.     Model ketidak berdayaan yang dipelajari
Mengemukakan bahwa bukan trauma yang menghasilkan depresi,tetapi keyakinan individu akan ketidakmampuanya mengontrol kehidupanya.
g.    Model perilaku
Belajar dari pengalaman belajar di masa lalu,depresi di anggap terjadi karena kurangnya reinforcement positif selama berinteraksi dengan lingkungan.
h.    Model biologi
Menggambarkan perubahan kimiawi di dalam tubuh yang terjadi pada keadaan depresi,termasuk defisiensi dari katekolamin,tidak berfungsinya endokrin dan hipersekresi cortisol.
i.      Masalah dalam bounding and attachment dan genetic
Gangguan ikatan antara ibu dan anak (mother-child bounding) pada usia dini, sangat penting dalam terjadinya keadaan patologis pada perkembangan kepribadian dikemudian hari. Bila seorang ibu ,  menderita depresi maka peran dan fungsinya sebagai ibu akan terganggu , yang mengakibatkan  relasi patologik pada anak .
2.      Faktor presipitasi
Ada empat  faktor yang menyababkan gangguan alam perasaan :
a.    Kehilangan kasih sayang secara nyata atau bayangan,termasuk kehilangan cinta seseorang,fungsi tubuh,status atau harga diri.
b.    Banyaknya peran dan konflik peran mempengaruhi berkembangnya depresi terutama pada wanita.
c.    Kejadian penting dalam kehidupan,sering kali sebagai keadaan yang mempengaruhi  episode depresi dan mempunyai dampak pada individu untuk menyelesaikan masalah.
d.   Sumber koping termasuk status sosial ekonomi,keluarga,hubungan interpersonal dan organisasi kemasyarakatan.
B.     Mekanisme Koping
Mekanisme koping yang di gunakan pada reaksi berduka yang tertunda adalah penyangkalan dan supresi yang berlebihan untuk menghindari distress hebat yang berhubungan dengan berduka. Pada depresi menggunakan mekanisme denial, represi, supresi dan disosiasi. Mania merupakan cerminan dari depresi walaupun perilajunya tidak sama namun dinamika dan mekanisme koping yang digunakan saling berhubungan.
C.    Perilaku.
Pasien mania sering tidak mengeluh gejala-gejala mereka. Beberapa pasien merasa terlalu senang dan gembira sehingga tidak mengeluh; pasien lainnya angitasi dan tidak senang tetapi memperhatikan perilaku yang berlebihan. Pada pasien depresi cukup banyak yang mengeluhkan depresinya, tetapi ada juga yang tidak mengeluh.Perilaku yang berhubungan dengan depresi (Stuart & Sundeen, 1995 hal. 215)
Afektif
Sedih, cemas apatis, murung, kebencian, kekesalan, marah, perasaan ditolak, perasaan bersalah, meras tidak berdaya, putus asa, merasa sendirian, merasa rendah diri, merasa tak berharga.
Kognitif
Ambivalence, bingung, ragu-ragu, tidak mampu konsentrasi, hilang perhatian dan motivasi, menyalahkan diri sendiri, pikiran merusak diri, rasa tidak menentu, pesimis.
Fisik
Sakit perut, anoreksia, mual, muntah, gangguan pencernaan, konstipasi, lemah, lesu, nyeri kepal, pusing, insomnia, nyeri dada, over acting, perubahan berat badan, gangguan selera makan, gangguan menstruasi, impoten, tidak berespon terhadap seksual.
Tingkah laku
Agresif, agitasi, tidak toleran, gangguan tingkat aktivitas, kemunduran psikomotor, menarik diri, isolasi social, irritable, berkesan menyedihkan, kurang spontan, gangguan kebersihan.




D.    Sumber koping
Sumber yang dapat menjadi individu yaitu keluarga,sekelompok sosial, status sosial-ekonimi, dan lingkungan. Kurangnya sistem pendukung tersebut dapat meningkatkan stress personal.
3.2 Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan pada gangguan alam perasaan dipahami adanya konsep yang saling berkaitan antar kecemasan,konsep diri dan bermusuhan.
Berikut ini diagnosa keperawatan primer Nanda :
a.       Ketidak berdayaan
b.      Berduka disfungsional
c.       Keputusasaan
d.      Resiko tinggi terhadap cedera
e.       Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh
f.       Defisit perawatan diri
g.      Gangguan pola tidur
h.      Resiko mencederai diri
Contoh diagnosa keperawatan lengkap :
a.       Inefektif koping individu/tidak efektif koping individu berhubungan dengan di dapatkan pasangan yang menyeleweng,yang di manifestasikan dengan keadaan euphoria,hiperaktif gangguan mengemukakan pendapat.
b.        Disfungsi proses berduka berhubungan dengan kematian pasangan yang dimanifestasikan dengan kesedihan dan hilangnya perhatian pada kegiatan kejadian sehari-hari.
c.       Distress spiritual berhubungan dengan kematian janin dalam kanduangan yang di manifestasikan dengan menyalahkan diri sendiri,pesimis akan masa depan dan slalu menyalahkan Allah.SWT




3.3    Perencanaan

No
Tujuan Umum :
Setelah tindakan perawatan diterapkan, klien dapat berespon emosional yang adaptif dan meningkatkan rasa puas serta senang yang dapat diterima oleh lingkungan.
Tujuan Khusus
Rasionalisasi
Tindakan
1


Klien terlindungi dari dari upaya mencederai diri sendiri atau bunuh diri.
Klien dengan gangguan alam perasaan berat berada dalam resiko tinggi untuk melakukan bunuh diri
·   Rawat klien dirumah sakit bila ada resiko bunuh diri yang tinggi
2
Klien mampu mengembangkan diri
Perubahan lingkungan dapat melindungi klien, mengurangi stress dan memberikan sumber pengembangan baru
·   Secara terus menerus evaluasi klien terhadap kemungkinan melakukan bunuh diri
·   Bantu klien untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya.

3
Klien mampu membina hubungan terapeutik dengan perawat .
Klien depresi biasanya enggan terlibat dalam hubungan terapeutik. Diperlukan cara agar klien dapat menerima dan bertahan dalam hubungan terapeutik.
·   Lakukan pendekatan yang hangat, menerima klien apa adanya dan bersifat empati
·   Mawas diri dan dapat mengendalikan perasaan dan reaksi diri perawat sendiri (misalnya rasa marah, frustasi dan empat)
4
Klien mampu mengenali dan mengekspresikan emosinya
Klien depresi mempunyai kesulitandalam mengidentifikasi dan mengekspresikan perasaannya.
· Tunjukkan respon emosinal dan menerima klien.
  Gunakan kemampuan berkomunikasi.
·   Berikan respon empati dengan berfokus pada perasaan bukan pada kenyataan yang terjadi.
·   Mengaku kesedihan klien dan berikan harapan
·   Bantu klien untuk mengekspresikan perasaannya.
·   Bantu klien untuk mengekspresikan perasaan marahnya dengan tepat
·   Bantu klien untuk menurunkan tingkat kecemasannya :
1.Sediakan waktu untuk berdiskusi dan bina hubungan yang sifatnya supportif.
2.Beri waktu untuk klien berespon.
3.Beri perawatan individu sebagai manusia layaknya.
5
Klien mampu memodifikasi pola kognitif yang negatif
Memodifi memodifikasi pola kognitif yang negatif akan membantu meningkatkan pengendalian diri,  tingkah laku dan perubahan harga diri
·   Diskusikan tentang masalah yang dihadapi klien tanpa memintanya untuk menyimpulkannya.
·   Identifikasi pemikiran yang negatif dan Bantu untuk menurunkannya melalui interupsi atau substitusi.
·   Bantu klien untuk meningkatkan pemikiran yang positif.
·   Evaluasi ketepatan persepsi klien, logika dan kesimpulan yang dibuat klien.
·   Identifikasi persepsi klien yang tidak tepat, penyimpangan dan pendapatnya yang tidak rasional
·   Bantu klien untuk dapat merubah tujuan yang tidak realistis ketujuan yang realistis.
·   Kurangi tujuan-tujuan yang tidak mungkin dicapai.
·   Kurangi penilaian klien yang negatif terhadap dirinya.
·   Bantu klien untuk menyadari nilai yang dimilikinya atau perilakunya dan perubahan yang terjadi.
6
Klien mampu untuk aktif mencapai tujuan yang realistik
Penampilan prilaku yang baik akan mengurangi/menghilangkan perasaan tak berdaya dan putus asa.
·   Beri tanggung jawab untuk melakukan terapi tindakan yang terorientasi.
·   Beri dorongan kepada klien untuk melakukan kegiatan secara teratur atau beri kebebasan melakukan kegiatan sehingga energi klien  dapat disalurkan.
·   Persiapkan program yang dapat dilakukan dengan baik.
·   Tetapkan tujuan yang realistis, relevan dengan kebutuhan klien dan minatnya serta difokuskan pada kegiatan yang positif.
·   Fokuskan kegiatan pada saat ini, bukan kegiatan pada masa lalu atau masa dating
·   Beri pujian jika klien berhasil melakukan kegiatan atau penampilannya bagus
·   Pertahankan penampilan atau kegiatan jika mungkin.
·   Buat jadwal exercise fisik dalam rencana keperawatan.
7
Klien mampu untuk melakukan hubungan interpersonal
Sosialisasi akan mengurangi kesempatan untuk menarik diri dan akan meningkatkan harga diri, melalui pemanfaatan dari dukungan lingkunagn yang tepat dan menerima.
·   Kaji kemampuan klien untuk bersosialisasi dan dukungan yang diperlukan serta minat klien
·   Diskusikan sumber social yang ada dan dapat digunaka.
·   Tunjukkan kemampuan bersosialisi yang efektif.
·   Gunakan role play dalam melakukan interaksi social.
·   Beri umpan balik dan pujian terhadap kemampuan klien dalam melakukan hubungan interpersonal yang efektif.
·   Beri dorongan kepada klien untuk meningkatkan hubungan sosialnya dalam lingkungan yang lebih luas.
·   Beri dorongan dengan penuh kekeluargaan terhadap respon emosional klien yang adaptif.
·   Beri dukungan dan libatkan dalam terapi keluarga dan terapi kelompok jika diperlukan.
8
Klien mampu meningkatkan kesehatan fisik dan kesejahteraannya.
Perawatan fisik dan terapi somatic diperlukan untuk mengatasi perubahan fisik yang terjadi karena gangguan alam perasaan
·   Lengkapi pengkajian tentang kesehatan fisiologi klien.
·   Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri terutam kebutuhan nutrisi, dan kebersihan diri.
·   Anjurkan klien untuk dapat melakukan pemenuhan kebutuhan perawatan diri secara mandiri jika memungkinkan.
·   Berikan terapi pengobatan.

1.4    Evaluasi
Adanya perubahan respon emosi maladaptif kearah adaptif, dimana klien dapat:
a.       Semua sumber pencetus stress dan persepsi klien dapat digali.
b.      Masalah klien mengenai konsep diri, rasa marah dan hubungan interpersonal dapat digali.
c.       Perubahan pola tingkah laku dan respon klien tersebut tampak.
d.      Riwayat individu klien dan keluarganya sebelum fase depresi dapat dievaluasi sepenuhnya.
e.       Tindakan untuk mencegah kemungkinan terjadinya bunuh diri telah dilakukan.
f.       Tindakan keperawatan telah mencakup semua aspek dunia klien.
g.      Reaksi perubahan klien dapat diidentifikasi dan dilalui dengan baik oleh klien.












BAB IV
NASKAH ROLE PLAY

Narrator           : Anugrah Dwi Priyono
Pasien              : Diah Puji Lestari
Perawat 1        : Irvan Herliandi
Perawat 2        : Siti Marhamah
Ibu                   : Ranti Ratna Sari
Ayah               : M. Reksa Satria
Dokter             : Widdy Bagea Munggaran

Di rumah sakit cinta damai terdapat seorang pasien yang bernaman Nn.D, menurut orang tuanya Nn.D sudah 8 hari terlihat murung, sering meningis tiba-tiba dan kadang dia tertawa-tawa sendiri dan tida jarang dia berteriak-teriak ini salahku ini salahku dan selama 8 hari itu pasien Nn.D tidak mau berinterkasi dengan orang sekitar bahkan dia tidak mau keluar kamar karena menurutnya dia sudah tidak berguna lagi dia sudah menghancurkan hidup orang lain.
Di ruang pasien
Pasien terlihat diam dan menangis
Ibu Pasien       : nak ini ibu bawa makanan kesukan kmu makan dulu ya ?
Pasien              :(hanya diam tidak memperdulikan )
Ibu Pasien       : anak ku ayo makan dulu ini ibu sama ayah bawa makanan kesukaan kamu nak?
Ayah Pasien    : iya ini buatan ibu yang sering kamu makan ?
Pasien                          : aku tak ingin makan aku hanya ingin mati
Ayah pasien    : jangan seperti itu itu tidak baik nak
Pasien                          : sudah jangan banyak bicara kalian gak tau apa yang aku rasakan.
Ibu Pasien       : makanya kamu cerita nak sama ibu
Pasien                          : (pasien hanya diam dan menangis )
Ayah Pasien    : kenapa kamu nak apa yang kamu rasakan ?
Pasien                          : (aku aku aku jahat )
Tiba tiba perawat datang untuk memeriksa keadaan Nn.D
Perawat           : asalamualaikum
Orang tua        : walaaikumsalam
Perawat           : adek kenapa menangis ?
Pasien              : (hanya menangis tak menghiraukan)
Perawat           :  bapak, ibu adeknya kenapa ?
Ayah               : tidak tahu dia tiba-tiba seperti itu.
Perawat           : oh , iya pak bu adek, sebelumnya benar ini sama Nn. D,?
Pasien              : (menganguk )
Perawat           : ade lebih suka di pangil apa dek ?
Pasien              : ( menangis )
Perawat           : kalau begitu saya panggil adek aja yah ? sebelumnya  perkenalkan nama saya perawat 1 , saya bagian dinas sekarang dari pukul 8-14:00  dan kedatangan saya kesini saya mau meriksa keadaan adik yah ? (sambil memegang bahu pasien )
Ayah Dan Ibu   : iya silahkan
Perawat             : adek kakak periksa dulu yah ? tapi sebelumnya adek kenapa menangis ?
Pasien                : saya merasa sedih saja.
Perawat             :sedih kenapa dek apa yang ade rasakan ?
Pasein                : tidak tau saya hanya ingin menagis
Perawat             : iya saya tau dek biar adek tidak merasa sedih ayo ceritakan apa yang membuat ade sedih ?
Pasien                : kamu tak akan mengerti (sambil membungkukan badan ).
Perawat             : ya sudah kalau begitu sekarang kita periksa dulu yah ?
Pasien                : hanya diam dan terlihat kosong.
ayah pasein        : iya a anak saya belum tidur sejak dua hari yang lalu dia hanya menangis saja tidak mau tidur.
Perawat             : iya pak nanti saya bicarakan dengan dokter untuk pemberian obat.
Ayah pasien      : iya, kasian anak saya tidak bisa tidur
Perawat             : iya, sebaiknya adek jangan di tinggalkan yah pak, dan obatnya di minum.
Ayah pasien      : iya
Perawat             : kalo begitu pemeriksaanya sudah selesai saya pamit dulu dek, pak, ibu nanti sekitar 15 menit saya kembali bersama dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut, tapi kalau ada apa-apa bapak bisa panggil saya di ruang perawat
Perawat pun pergi meninggalkan ruangan menuju ke ruang dokter
Di ruangan dokter
Perawat           : (mengetuk pintu ) asalamulaikum dok
Dokter             : walaikum salam silahkan masuk
Perawat           : dok ini saya mau melaporkan hasil pemeriksaan Nn. D
Dokter             : iya bagimana sekarang keadaan Nn.D
Perawat           : TTV nya normal dok, cuman pasien masih terlihat lemas, sering melamun, dan kosong , dan dia sering menyalahkan dirinya sendiri dok, bahkan menurut keluarganya dia sudah dua hari belum tidur dia hanya menangis saja dok, dan tidak mau bicara.
Dokter             : baik kalo begitu mari kita ke ruangan Nn. D , untuk memeriksa lebih lanjut
Perawat           : mari dok
Dokter dan perawat pun pergi menuju ruangan pasien
Dokter             : asalamualaikum
Keluarga          : walaikum salam dok
Dokter                         : ibu saya mau memeriksa adiknya dulu silahkan ibu dan bapak tunggu di luar
Pasien              : sayang tak mau di tinggalkan kelurga saya
Dokter             : baik kalo begitu ibu dan bapak di sini saja
Kelurga           : iya dok
Dokter             : ade saya periksa lagi yah biar adek cepat sembuh
Pasien              :(diam dan hanya menangis)
Dokter             : (sambil memeriksa bertanya ) adek kenapa menangis terus dek?
Pasien              : (menoleh dan menatap dokter ) saya salah dok saya salah
Dokter             : salah apa dek kenapa ?
Pasien              : tidak ada kalian tidak mengerti
Dokter                         : ya sudah kalau belum mau cerita, ade makan obatnya yah biar adek cepat sembuh ?
Pasien              : tidak mau dok saya sudah tak pantas lagi hidup
Dokter             : jangan seprti itu dek itu tidak baik
Pasien              : sudah lah keluar saja sanah
Dokter                         : ya sudah kalau belum mau ceraita saya pamit dulu , yah bapak ibu , adek nya jangan di tinggalain yah bu, pak
Keluarga          : iya dok terimaksih.
Perawat dan dokterpun pamit dari ruangan itu
Di ruang dokter
Dokter             : kang kan pasien Nn.D belum tidur udah dua hari ini resep obat untuk Nn.D agar dapat tidur.
Perawat           : iya dok, kalau begitu saya pamit dulu untuk memberikan resep kekeluarga pasien.
Perawat 1 pun pergi meninggalkan ruangan dokter untuk memberikan resep obat ke kekuarga pasien
Perawat 1        : ibu ini resep obat yang harus diambil.
Ibu                   : iya baik
Ketika ibu pergi mengambil obat, perawat 1 pun pergi ke ruang perawat untuk pertukaran shift
Perawat 1        : teh, sebelum pertukaran shift tadi ada resep dari dokter untuk di berikan ke Nn.D pukul 16.00.
Perawat 2        : oh iya kang , kalau begitu mari kita operan.

Perawat 1 dan 2 pun perig ke ruang pasien untuk melakukan operan
Perawat 1        :assalamualaikum, de, bu, pak, sekarang waktunya pertukaran shift, saya akan di gantikan oleh teman saya perawat 2.
Perawat 2        : iya pak sekarang saya bertugas diruang ini menggantikan perawat 1.
Perawat           : kalau begitu kita kembali keruangan dulu ya pak bu, assalamualaikum..
Ibu dan ayah   : waaliakumsalam
Setelah pertukaran shift perawat 1 dan 2 pun kembali ke ruang perawat
Dan perawat 2 akan memberikan obat pada Nn.D yang sudah diresepkan oleh dokter.
Perawat 2        : tok tok tok assalamulaikum , ade sekarang jadwalnya untuk memberikan obat ya, karena ade katanya belum tidur-tidur ya?
Pasien              : (hanya diam)
Perawat 2        : de, ini obat mau saya suntikan dulu iya.
Pasien                : (menolak dan langsung merebut spuit berisi obat yang di bawa perawat)
Perawat dan keluargapun kaget
Pasien                : tak ada gunanya aku terus diberikan obat seperti ini, lebih baik aku mati, aku tak sanggup menahan beban ini, aku merasasalah bu, aku telah menghancurkan hidup seseorang.
Ibu pasien          : nak tenang sayang, suster Cuma mau kasih obat saja.
Perawat 2          : iya de, sebentar saja kok,.
Pasien                : saya tidak mau sus, tidak mau, saya yang salah sus.
Perawat 2          : baiklah kalau begitu sekarang ade tenang ya, coba sekarang ade ceritakan apa yang membuat ade merasa selalu bersalah? Kita ngobrol-ngobrol sebentar mau?
Pasien                : iya sus, boleh.
Perawat2:          iya sekarang kita ngobrol sebentar iya, ade mau berapa lama kira kira? Bagaimana kalau kita coba ngobrol 10 menit saja bisa?
Pasien                : iya sus, boleh
Perawat2           : kalau begitu coba sekarang ade ceritakan masalahnya.
Pasien                : aku bingung sus, aku takut dengan kesalahan yang menghantuiku, kemana pun aku pergi selalu di hantui rasa bersalah, aku dah jahat, aku dah bikin dia meninggal sus.
Perawat2           : emm sebenarnya apa yang dah ade lakukan sehingga ade selalu merasa bersalah?
Pasien                ; dia dulu pacar aku sus, tapi hubungan kita kidak direstui oleh orang tua saya, sampai akhirnya saya memutuskan untuk berpisah dengan dia, tapi dia gak terima, hingga akhirnya dia terjerumus dalam pergaulan yang tidak benar, pada suatu saat dia over dosis dan nyawa dia tidak tertolong, dan dia meninggal sus.
Perawat 2          : ohh jadi itu yang membuat ade menjadi selalu merasa bersalah?
Pasien                : iya sus, jika aku tidak memutuskan dia, mungkin ini semua tidak akan terjadi, dia tidak akan terjerumas dalam hal seperti itu, yang membuat dia jadi tak tertolong.
Perawat 2          : ade sebenarnya ini bukan sepenuhnya kesalahan ade, dia meninggal karena akibat dari ulah dia sendiri, dia telah memutuskan buat menganbil jalan yang salah. Jadi ade jangan pernah salahkan diri ade ya? Ade harus tetap semangat, dan berhenti menyakahkan diri sendiri. Kasian ayah sam ibu ade, mereka juga sedih melihat kondisi ade sekarang.
Pasien                : emmm terima kasih ya sus, sekarang saya bisa lebih paham, saya juga akan mencoba untuk berhenti menyalahkan diri saya.
Perawat 2          : iya,, bagaimana apakah ade sekarang sudah merasa lebih tenang?
Pasien                ; iya sus sudah, terimakasih ya sus..
Perawat 2          : iya sama sama
Ibu dan ayah     : sus terimakasih ya sudah membantu menenangkan anak saya
Perawat 2          : iya bu, pak, kalo begitu saya permisi pamit keluar dulu iya, jika ada apa-apa silagkan panggil saya.. assalamualaikum.
Ibu dan ayah     : walaikumsalam

Setelah menceritakan masalahnya dan diberi pengarahan oleh perawat 2 pasien pun mulai tenang, dan mulai menyadari untuk berhenti menyalahkan diri sendiri, hingga akhirnya pasien pun berusaha untuk mulai berinteraksi lagi dengan sekitar.

TAMAT






BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Alam perasaan adalah keadaan emosional yang berkepanjangan yang mempengaruhi seluruh kepribadiaan dan fungsi kehidupan seseorang ( Stuart 2006).
Gangguan alam perasaan adalah kelainan psikologis yang ditandai meluasnya irama emosional seseorang, mulai dari rentang depresi sampai gembira yang berlebihan (euphoria) dan gerak yang berlebihan (agitation). Depresi dapat terjadi secara tunggal dalam bentuk mayor depresi atau dalam bentuk lain seperti mania sebagai gangguan tipe bipolar. Depresi terdapat klasifikasi dan tingkatan nya. Tanda dan gejala yang timbul pada depresi bisa bermacam-macam karena tiap individu itu unik.
Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya depresi. Bisa karena faktor prepitasi maupun faktor prediposisi. Asuhan keperawatan yang dibeikan pada pasien berbeda-beda. Hal ini dikarenakan pasien dengan gangguan alam perasaan menunjukkan pribadi yang unik.
5.2 Saran
Sebagai tenaga profesional tindakan perawat dalam penangan masalah keperawatan khusunya klien dengan Gangguan Alam Perasaan harus memiliki pengetahuan yang luas dan tindakan yang dilakukan harus rasional sesuai gejala penyakit dan asuhan keperawatan hendaknya diberikan secara komprehensif, biopsikososial cultural dan spiritual.
Kesehatan jiwa dapat didapatkan dengan jalan ada kesinkronan antara pasien, keluarga dan tenaga medis dalam upaya proses penyembuhan. Jika salah satu dari komponen tersebut, maka akan menghambat proses penyembuhan.




DAFTAR PUSTAKA

*      Wahyu. P. 2010. “Kumpulan Proses Keperawatan Masalah Keperawatan Jiwa”. Jakarta : FIK-UI
*      Keliat B.A. 2005. “Proses Keperawatan Jiwa”. Jakarta : EGC
*      Marilynn E Doenges. 2006. “Rencana Asuhan Keperawatan Psikiatri”. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran: EGC
*      Gibbson Towsend , M C, 1995. “Kumpulan Keperawatan Jiwa”. Jakarta : Buku Kedokteran
*      Purwaningsih w. Dkk, 2010. “Asuhan Keperawatan Jiwa”. Bantul Yogyakarta”: Nuha Medika.