ASUHAN KEPERAWATAN PADA
KLIEN DENGAN
GANGGUAN ALAM PERASAAN
ROLE PLAY
Diajukan untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Keperawatan Jiwa
Oleh
Kelompok 3
Anugrah Dwi
Priyono
Diah Puji Lestari
Irvan Herliandi
M. Reksa Satria
Ranti Ratna Sari
Siti Marhamah
Widdy Bagea Munggaran

Kelas 2B
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
SUKABUMI
2014
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Secara garis besar ada beberapa proses yang berperan
dalam terciptanya perilaku manusia. Pertama adalah proses kondisi yang meliputi
: sensasi, persepsi, perhatian, ingatan, asosiasi, pertimbangan, pikiran, dan
kesadaran. Kedua adalah unsure kemauan, sedangkan yang ketiga adalah aspek
emosi dan afek, serta yang terakhir adalah psikomotor.keempat komponen
tersebbut pada kenyataannya merupakan suatu kesatuan yang sulit dipisah –
pisahkan serta saling berinteraksi dalam lingkungan internal individu.
Perasaan mood merupakan bagian dari emosi dan afek.
Seperti halnya kognitif, kemauan, dan psikomotor, maka emosi serta afek klien
dapat mengalami gangguan.
1.2 Tujuan
a. Tujuan
umum
Setelah mengikuti seminar tentang gangguan alam
perasaan ini peserta diharapkan mampu untuk mengetahui, melaksanakan dan
memahami gangguan alam perasaan beserta asuhan keperawatannya
b.
Tujuan Khusus
1)
Mengetahui definisi gangguan alam perasaan.
2)
Mengetahui etiologi gangguan alam perasaan.
3)
Mengetahui patofisiologi gangguan alam perasaan.
4)
Mengetahui manifestasi klinis gangguan alam perasaan.
5)
Mengetahui pemeriksaan diasnotik gangguan alam perasaan
6)
Mengetahui penatalaksanaan gangguan alam perasaan.
7)
Mengetahui komplikasi gangguan alam perasaan.
8)
Mengetahui konsep asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan alam perasaan.
BAB
II
TINJAUAN
TEORI
2.1
Pengertian Mood
Perasaan
suasana hati yang mewarnai seluruh kehidupan psikis seseorang dan mempengaruhi
seseorang dalam waktu yang lama. Misalnya seorang yang sedih malas untuk
berkomunikasi, makan, bekerja, dan sebagainya.
a.
Menurut
Stuart Laraia dalam Psychiatric Nursing (1998: 349);
Keadaan emosional yang memanjang yang mempengaruhi seluruh kepribadian
individu dan fungsi kehidupannya. Hal ini berhubungan dengan emosi dan memiliki
pengertian yang sama dengan keaadaan perasaan atau emosi. Seperti aspek-aspek
lain dalam kepribadian, emosi atau mood berperan dalam proses adaptasi.
Ada empat fungsi adaptasi dari emosa yaitu bentuk komunikasi social,
merangsang fungsi fisiologis, kesadaran secara subjektif, dan mekanisme
pertahanan psikodinamis.
b.
Menurut
John W.Santrok dalam Psychology The Science Of
Mind And Behavior (1991:490);
Gangguan alam perasaan adalah kelainan psikologis yang ditandai
meluasnya irama emosional seseorang, mulai dari rentang depresi sampai gembira
yang berlebihan (euphoria), dan gerak
yang berlebihan (agitation). Depresi dapat terjadi secara tunggal dalam bentuk
mayor depresi atau dalam bentuk lain seoerti mania sebagai gangguan tipe
bipolar.
c.
Menurut
Patricia D.Barry dalam Mental Healt And Mental Illness (998:302);
Gangguan mental efektif (gangguan alam perasaan) meliputi kondisi mental
yang menyebabkan perubahan alam perassaan seseorang (afek) atau keadaan
emosional dalam periode waktu yang panjang. Perubahan keadaan emosional
tersebut dapat berupa depresi, kegembiraan atau kombinasi dari berbagai siklus
(tipe).
d.
Buskist
Gerbing dalam Psychology Boundaries And Frontiers (1990:548);
Gangguan mood dapat dirinciksn dengan depresi yang dalam, atau kombinasi
dari depresi dan gembira yang berlebihan. Dengan kata lain individu dengan
kelainan mood selain depresi yang mendalam dapat berupa periode elasi (keceriaan) dan depresi.
e.
Menurut
Clinton Nelson dalam Mental Healt Nursing Practice (1996);
Gangguan
mental yang memperlihatkan perubahan suasana perasaan menonjol dan menetap dan
bersifat patologis. Sebagian besar gangguan alam perasaan berupa depresi dan
mania. Alam perasaan (mood) merujuk pada keadaan emosional internal dari
individu, seperti “saya merasa bahagia, saya marah, saya merasa sedih”. Affect
merujuk pada tampilan luar dari ekspresi emosi seperti mimic wajah, atau postur
tubuh yang menunjukan perasaan sedih atau marah.
2.2
Rentang Respon Emosi
|
Emotional responsive
|
Reaksi kehilangan yang wajar
|
supresi
|
Supresi reaksi kehlangan yang memanjang
|
Mania atau depresi
|
Rentang respon emosi seseorang yang normal bergerak
secara dinamis. Tidak merupakan suatu titik yang statis dan tetap. Dinamis
tersebut dipengaruhi oleh berbagai factor seperti organobiologis,
psikoedukatif, sosiokultural. Pada klien yang mengalami gangguan alam perasaan,
reaksinya cenderung menetap dan memanjang. Tetapi hal tersebut juga sangat
tergantung pada tipe gangguan alam perasaannya. Apakah termasuk tipe manic,
depresi, atau kombinasi dari keduanya. Rentang respon emosi bergerak dari
emotional responsive sampai mania/depresi dengan cirri-ciri sebagai berikut:
a.
Responsive
Klien lebih terbuka, menyadari perasaannya, dapat berpartisipasi dengan
dunia internal (meahami harapan dirinya) dan dunia eksternal (memahami harapan
orang lain).
b.
Reaksi
kehilangan yang wajar
Klien merasa bersedih, kegiatan
sehari-hari klien berhenti (misalnya bekerja, sekolah) pikiran dan
perasaan klien lebih berfokus pada diri sendiri tetapi seuma hal tersebut
berlangsung hanya sementara.
c.
Supresi
Merupakan tahap awal diman coping individu termasuk maladatif, klien
menyangkal perasaannya sendiri, klien berusaha menekan atau mengalihkan
perhatiannya terhadap lingkungan. Apabila fase ini berlangsung terus menerus
(memanjang) maka hal tersebut dapat mengganggu individu.
d.
Depresi
Gangguan
alam perasaan yang ditandai dengan perasaan sedih yang berlebihan, murung,
tidak bersemangat, perasaan tidak berharga, merasa kosong, putus harapan,
selalu merasa dirinya gagal, tidak beminat terhadap ADL sampai ad aide bunuh
diri.
2.3
Tipe Gangguan Alam Perasaan
Secara
garis besar tipe gangguan dapat diklasifikasikan sebagai berikut: mood episode,
depressive disorder, dan biopolar disorders.
a.
Mood
episode
1)
Mayor
depressive episode
Untuk diagnosis kelompok ini, terdapat 5 atau lebih gejala-gejala yang
ditampilkan selama periode 2 minggu dan menampilkan perubahan fungsi dari
fungsi sebelumnya paling sedikit dari gejala tersebut adalah salah satu dari 2
hal berikut yaitu perasaan depresif dan kehilangan ketertarikan terhadap
kesenangan (pleasure). Tanda secara lengkap adalah sebagai berikut:
a)
Perasaan
depresif lebih banyak dalam sehari, hamper setiap hari yang diindikasikan
berdasarkan data subjektif atau hasil observasi.
b)
Menurunnya
secara nyata minat terhadap kasenangan, hampir semua aktivitas dalam sehari
atau hamper setiap hari.
c)
Kehilangan
berat badan yang berarti meskipun tidak diet.
d)
Kesulitan
tidur (insomnia) atau tidur yang berlebihan (hypersomnia).
e)
Terjadi
peningkatan aktivitas psikomotor (psychomotor agitation) atau perlambatan
motorik (retardation) hamper setiap hari.
f)
Kelelahan
atau kehilangan energi hamper setiap hari.
g)
Perasaan-
perasaan tidak berharga atau berlebihan atau perasaan berdosa yang berlebihan
hampir setiap hari.
h)
Berkutangnnya
kemampuan untuk berfikir atau konsentrasi, atau perasaan ragu-ragu hampir ssetiap hari.
i)
Terus
menerus berfikir tentang kematian, berulangnya ide-ide untuk bunuh diri tanpa
perencanaan untuk palaksanaan bunuh dirinya.
2)
Manic
Episode
Manic episode ditandai
dengan periode gangguan yang nyata dan peningkatan secara menetsp, meluap-luap
atau mood yang mudah terangsang (irritable) selama 1 minggu ( atau beberapa
periode saat di rumah sakit juga penting). Selama periode gangguan, 3 atau
lebih gejala-gejala berikut telah menetap dan telah nampak dalam tingkat yang berarti :
a)
Melambungnya
harga diri atau Grandoisity.
b)
Menurunnya
kebutuhan untuk tidur.
c)
Lebih
banyak bicara dibandingkan biasanya atau ada dorongan yang kuat untuk
barbiacara.
d) Ide yang meloncat (fligh of ideas) atau pengalaman
subjektif bahwa ia berfikir meloncat.
e)
Perhatian
yang mudah teralih (distractibility).
f)
Peningkatan
dalam perilaku yang bertujuan atau agitasi psikomotor.
g)
Keterlibatan
yang berlebihan dalam aktivitas yang menyenangkan yang berpotensi untuk
mengakibatkan cedera.
Pada saat episode manic
dimulai, penampilan klien menjadi meningkat, tidak rapi, lebih cepat secara
fisik, dalam intelektual, dan emosional. Klien menjadi meningkat dalam
aktivitas (restless) dan agresif. Aspek id terlihat berlebihan, dan aspek super ego cenderung dilarang.
Klien berfikir cepat dengan demikan ia menjadi mudah terlatih perhatiannya
(distractibility). Hal ini memyebabkan adanya ide yang meloncat-loncat (fligh
of ideas). Mood klien menjadi gembira
yang berlebihan (euphoria) dan berganti menjadi exaltation (gembira berlebihan
yang disertai hiperaktivitas motorik) dan akhirnya mencapai puncaknya menjadi
gelisah dan sangat gaduh. Klien dalam keadaan ini tidur dan makan sangat
sedikit, kehilngan berat badan yang sangat cepat ia dapat memukul apa saja
apabila dicegah menjadi marah.
3)
Tipe
lainnya (other)
Tipe lain dari episode mood meliputi mixed episode dan hypomanic
episode. Pada mixed episode, kriterianya merupakan perpaduan antara manic
episode dan mayor depressive episode. Sedangkan pada hypomanic episode sacara
jelas menunjukan meningkatnya mood yang berbeda dari mood nondepresif yang
biasa tetapi tidak dikelompokkan sebagai episode manik.
b.
Depressive
Disorders
1)
Mayor
Depressive Disorders
a)
Mayor
depressive disorders dapat berupa episode berulang atau episode tunggal. Hal
ini dapat juga memiliki gambaran khusus seperti adanya penampilan diam, melamun
(catatonic) atau melakolik atau menyertai kejadian post partum.
b)
Klien
mengalami mayor depressive berbicara menjadi lambat, berhenti bicara (halting)
cemas dan klien menjadi menyalahkan diri sendiri. Pada tipe episode depresuf
gerakan klien menjadi lambat untuk duduk dikursi, kaku (rocking back), suara
mengerang sedih (moaning dejectedly), dan lebih banyak duduk di lantai atau
tempat tidur. Klien secara langsung bersikap agresi ke dalam dirinya sendiri
dan kadang-kadang menyalahkan diri
sendiri, perasaan berdosa, dan bersalah didunianya. Kesengsaraannyasangat
mendalam, selanjutnya setelah periode ini klien dapat mencoba bunuh diri.
2)
Dysthymic
Disorder
Dalam diagnostic and statistical manual of mental disorders, kondisi
kelompok ini dikenal dengan depresi neurois (neurotic depression ) kondisi ini
ditandai dengan mood yang terdepresi dalam sebagian besar hari. Dua atau lebih
gejala depresi berikut dapat ditampilkan : menurunnya napsu makan (poor
appetite) kelelahan yang sangat (low energy level or fatigue), susah tidur
berlebihan (insomnia or excessive sleeping), harga diri rendah (low self
esteem), kesulitan konsentrasi atau kesulitan membuat keputusan ( poor
concentration or difficulty making decision) dan perasaan putus harapan
(feeling hopelessness).
c. Bipolar
Disorders
1)
Bipolar
Disorders
klien
dengan tipe bipolar mendemonstrasikan kekuatan, meluap-luap dan menggambarkan
siklus irama mood. Bentuk yang ditemukan dalam tipe gangguan mental ini adalah
kapanpun mengalami keadaan meluap-luap selama waktu satu mingu atau satu bulan.
2)
Cyclothymic
Disorders
Individu
dengan kelainan ini cenderung untuk mengalami irama mood diantara keriangan dan
depresif.
2.4 Perbedaan Mania dan Depresi
Kedua hal ini merupakan respon emosi yang mal adaptif
berat dan dapat dikenal melalui intensitas, rembetan, terus-menerus dan
pengaruhnya pada fungsi sosial dan fisik individu. Istilah depresi dipakai
untuk tanda dan gejala keadaan klinik sesungguhnya.
Gangguan alam perasaan menurut DSM –III R. Dibagi
dalam dua kategori (dikutip dari Wilson dan Kneisl,1987,hlm 428) yaitu :
1. Gangguan bipolar :
a)
Gangguan bipolar
(campuran manik,depresi).
b)
Siklotimia.
2. Gangguan depresi
a)
Major depresi ( satu
episode,berulang).
b)
Distimia.
2.5
Gejala Gangguan Mood Depresi
Gangguan depresi
ditandai perasaan sedih yang berlebihan,murung,tidak bersemangat,merasa tidak
di hargai,merasa kosong dan tidak ada harapan, berpusat pada kegagalan dan menuduh
diri,dan di sertai ide dan pikiran bunuh diri.klien tidak berminat pada
pemeliharaan diri dan pada aktivitas sehari-hari.
Gangguan mania ditandai
oleh perasaan hati yang meningkat,meluas dan mudah tersinggumg klien tidak mengenal
lelah,hyperaktif dan pada keadaan yang berat disertai panik yaitu perilaku yang
tidak terkontrol.
Depresi adalah salah
satu bentuk gangguan jiwa pada alam perasaan ( afektif,mood) yang di tandai
kemurungan,kesedihan,kelesuan,kehilangan gairah hidup,tidak ada semangat dan
merasa tidak berdaya,perasaan bersalah atau berdosa dan tidak berguna dan putus
asa.gejala lain yang sering menyertai gangguan mood adalah:
a)
Sulit konsentrasi dan
daya ingat menurun
b)
Nafsu makan dan berat
badan menurun
c)
Gangguan tidur (sulit
tidur atau tidur berlebihan)di sertai mimpi-mimpi yang tidak
menyenangkan,misal: mimpi orang yang sudah meninggal.
d)
Agitasi atau retardasi
motorik (gelisah atau perlambatan gerakan motorik).
e)
Hilang perasaan
senang,semangat,minat dan meninggalkan hobby.
f)
Kreatifetas dan
produktifitas menurun.
g)
Ganggua seksual (libido
menurun)
h)
Pikiran-pikiran tentang
kematian dan bunuh diri.
Bila seseorang lebih rentan untuk menderita depresi di
bandingkan orang lain,biasanya yang bersangkutan mempunyai corak kepribadian
sendiri. (diri kepribadian depresif,)dengan ciri-ciri:
a)
Mereka sukar untuk
merasa bahagia, mudah cemas, gelisah dan kawatir, irritable, tegang dan
agitatif.
b)
Mereka yang kurang
percaya diri, rendah diri mudah mengalah dan lebih senang untuk berdamai,
menghindari konflik atau konfrontasi merasa gagal dalam usaha atau sekolah
lamban, lemah, lesu, atau sering mengeluh sakit ini dan itu.
c)
Pengendalian dorongan
dan impuls terlalu kuat menarik diri lebih suka menyisih sulit ambil keputusan,
enggan bicara, pendiam dan pemalu.
d)
Suka mencela,
mengeritik, menyalahkan orang lain atau menggunakan mekanisme pertahanan
penyangkalan.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN ALAM PERASAAN
3.1 Pengkajian
Pengkajian dilakukan dengan cara mengidentifikasi
faktor presdisposisi,perubahan perilaku,sumber stressor,mekanisme koping,sumber
koping dan penilaian stressor.
A. Faktor predisposisi dan presipitasi
1.
Faktor predisposisi
Beberapa teori di
temukan untuk menjelaskan gangguan alam perasaan.Faktor predisposisi yang dapat
menyebabkan gangguan alam perasaan adalah:
a.
Faktor genetik.
Mengemukakan transmisi
gangguan alam perasaan diteruskan mulai garis keturunan.
b.
Teori agresi berbalik
pada diri sendiri.
Mengemukakan bahwa
depresi diakibatkan oleh perasaan marah yang dialihkan pada diri sendiri.
c.
Teori kehilangan.
Menunjukkan adanya
perpisahan yang bersifat traumatis dengan orang yang di cintai.
d.
Teori kepribadian.
Mengambarkan bagaimana
konsep diri yang negatif dan harga diri yang rendah mempengaruhi kepercayaan
dan penilaian terhadap stressor.
e.
Teori kognitif
Mengemukakan bahwa
depresi adalah masalah kognitif yang di dominasi oleh penilaian negatif
terhadap diri sendiri,lingkungan dan masa depan.
f.
Model ketidak berdayaan
yang dipelajari
Mengemukakan bahwa
bukan trauma yang menghasilkan depresi,tetapi keyakinan individu akan
ketidakmampuanya mengontrol kehidupanya.
g.
Model perilaku
Belajar dari pengalaman
belajar di masa lalu,depresi di anggap terjadi karena kurangnya reinforcement
positif selama berinteraksi dengan lingkungan.
h.
Model biologi
Menggambarkan perubahan
kimiawi di dalam tubuh yang terjadi pada keadaan depresi,termasuk defisiensi
dari katekolamin,tidak berfungsinya endokrin dan hipersekresi cortisol.
i.
Masalah dalam bounding and attachment dan genetic
Gangguan ikatan antara ibu dan anak (mother-child bounding) pada usia dini,
sangat penting dalam terjadinya keadaan patologis pada perkembangan kepribadian
dikemudian hari. Bila seorang ibu ,
menderita depresi maka peran dan fungsinya sebagai ibu akan terganggu , yang
mengakibatkan relasi patologik pada anak
.
2.
Faktor presipitasi
Ada empat faktor yang menyababkan gangguan alam
perasaan :
a.
Kehilangan kasih sayang
secara nyata atau bayangan,termasuk kehilangan cinta seseorang,fungsi
tubuh,status atau harga diri.
b.
Banyaknya peran dan konflik peran mempengaruhi berkembangnya depresi
terutama pada wanita.
c.
Kejadian penting dalam kehidupan,sering kali sebagai keadaan yang
mempengaruhi episode depresi dan
mempunyai dampak pada individu untuk menyelesaikan masalah.
d.
Sumber koping termasuk status sosial ekonomi,keluarga,hubungan interpersonal
dan organisasi kemasyarakatan.
B.
Mekanisme Koping
Mekanisme koping yang di gunakan pada reaksi berduka yang tertunda adalah
penyangkalan dan supresi yang berlebihan untuk menghindari distress
hebat yang berhubungan dengan berduka. Pada depresi menggunakan mekanisme
denial, represi, supresi dan disosiasi. Mania merupakan cerminan dari depresi
walaupun perilajunya tidak sama namun dinamika dan mekanisme koping yang digunakan
saling berhubungan.
C.
Perilaku.
Pasien mania sering tidak mengeluh gejala-gejala mereka. Beberapa pasien
merasa terlalu senang dan gembira sehingga tidak mengeluh; pasien lainnya
angitasi dan tidak senang tetapi memperhatikan perilaku yang berlebihan. Pada
pasien depresi cukup banyak yang mengeluhkan depresinya, tetapi ada juga yang
tidak mengeluh.Perilaku yang berhubungan dengan depresi
(Stuart & Sundeen, 1995 hal. 215)
|
Afektif
|
Sedih, cemas apatis, murung, kebencian,
kekesalan, marah, perasaan ditolak, perasaan bersalah, meras tidak berdaya,
putus asa, merasa sendirian, merasa rendah diri, merasa tak berharga.
|
|
Kognitif
|
Ambivalence, bingung, ragu-ragu, tidak
mampu konsentrasi, hilang perhatian dan motivasi, menyalahkan diri sendiri,
pikiran merusak diri, rasa tidak menentu, pesimis.
|
|
Fisik
|
Sakit perut, anoreksia, mual, muntah,
gangguan pencernaan, konstipasi, lemah, lesu, nyeri kepal, pusing, insomnia,
nyeri dada, over acting, perubahan berat badan, gangguan selera makan,
gangguan menstruasi, impoten, tidak berespon terhadap seksual.
|
|
Tingkah laku
|
Agresif, agitasi, tidak toleran,
gangguan tingkat aktivitas, kemunduran psikomotor, menarik diri, isolasi
social, irritable, berkesan menyedihkan, kurang spontan, gangguan kebersihan.
|
D.
Sumber koping
Sumber yang dapat menjadi individu yaitu keluarga,sekelompok sosial, status
sosial-ekonimi, dan lingkungan. Kurangnya sistem pendukung tersebut dapat
meningkatkan stress personal.
3.2 Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan
pada gangguan alam perasaan dipahami adanya konsep yang saling berkaitan antar
kecemasan,konsep diri dan bermusuhan.
Berikut ini diagnosa
keperawatan primer Nanda :
a.
Ketidak berdayaan
b.
Berduka disfungsional
c.
Keputusasaan
d.
Resiko tinggi terhadap cedera
e.
Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan
tubuh
f.
Defisit perawatan diri
g.
Gangguan pola tidur
h.
Resiko mencederai diri
Contoh diagnosa
keperawatan lengkap :
a.
Inefektif koping
individu/tidak efektif koping individu berhubungan dengan di dapatkan pasangan
yang menyeleweng,yang di manifestasikan dengan keadaan euphoria,hiperaktif
gangguan mengemukakan pendapat.
b.
Disfungsi proses
berduka berhubungan dengan kematian pasangan yang dimanifestasikan dengan
kesedihan dan hilangnya perhatian pada kegiatan kejadian sehari-hari.
c.
Distress spiritual berhubungan
dengan kematian janin dalam kanduangan yang di manifestasikan dengan
menyalahkan diri sendiri,pesimis akan masa depan dan slalu menyalahkan
Allah.SWT
3.3
Perencanaan
|
No
|
Tujuan Umum :
Setelah tindakan perawatan diterapkan,
klien dapat berespon emosional yang adaptif dan meningkatkan rasa puas serta
senang yang dapat diterima oleh lingkungan.
|
||
|
Tujuan Khusus
|
Rasionalisasi
|
Tindakan
|
|
|
1
|
Klien terlindungi dari dari upaya mencederai diri sendiri atau bunuh
diri.
|
Klien dengan gangguan alam perasaan berat
berada dalam resiko tinggi untuk melakukan bunuh diri
|
· Rawat
klien dirumah sakit bila ada resiko bunuh diri yang tinggi
|
|
2
|
Klien mampu mengembangkan diri
|
Perubahan lingkungan dapat melindungi
klien, mengurangi stress dan memberikan sumber pengembangan baru
|
· Secara terus menerus
evaluasi klien terhadap kemungkinan melakukan bunuh diri
· Bantu klien untuk
dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya.
|
|
3
|
Klien mampu membina hubungan terapeutik
dengan perawat .
|
Klien depresi biasanya enggan terlibat
dalam hubungan terapeutik. Diperlukan cara agar klien dapat menerima dan
bertahan dalam hubungan terapeutik.
|
· Lakukan
pendekatan yang hangat, menerima klien apa adanya dan bersifat empati
· Mawas
diri dan dapat mengendalikan perasaan dan reaksi diri perawat sendiri
(misalnya rasa marah, frustasi dan empat)
|
|
4
|
Klien mampu mengenali dan
mengekspresikan emosinya
|
Klien depresi mempunyai kesulitandalam mengidentifikasi dan mengekspresikan
perasaannya.
|
· Tunjukkan respon emosinal dan
menerima klien.
Gunakan kemampuan
berkomunikasi.
· Berikan respon empati
dengan berfokus pada perasaan bukan pada kenyataan yang terjadi.
· Mengaku kesedihan
klien dan berikan harapan
· Bantu klien untuk
mengekspresikan perasaannya.
· Bantu klien untuk
mengekspresikan perasaan marahnya dengan tepat
· Bantu klien untuk
menurunkan tingkat kecemasannya :
1.Sediakan waktu untuk berdiskusi dan bina hubungan yang sifatnya
supportif.
2.Beri waktu untuk klien berespon.
3.Beri perawatan individu sebagai manusia layaknya.
|
|
5
|
Klien mampu memodifikasi pola kognitif
yang negatif
|
Memodifi memodifikasi pola kognitif yang
negatif akan membantu meningkatkan pengendalian diri, tingkah laku
dan perubahan harga diri
|
· Diskusikan
tentang masalah yang dihadapi klien tanpa memintanya untuk menyimpulkannya.
· Identifikasi
pemikiran yang negatif dan Bantu untuk menurunkannya melalui interupsi atau
substitusi.
· Bantu
klien untuk meningkatkan pemikiran yang positif.
· Evaluasi
ketepatan persepsi klien, logika dan kesimpulan yang dibuat klien.
· Identifikasi
persepsi klien yang tidak tepat, penyimpangan dan pendapatnya yang tidak
rasional
· Bantu
klien untuk dapat merubah tujuan yang tidak realistis ketujuan yang
realistis.
· Kurangi
tujuan-tujuan yang tidak mungkin dicapai.
· Kurangi
penilaian klien yang negatif terhadap dirinya.
· Bantu
klien untuk menyadari nilai yang dimilikinya atau perilakunya dan perubahan
yang terjadi.
|
|
6
|
Klien mampu untuk aktif mencapai tujuan
yang realistik
|
Penampilan prilaku yang baik akan
mengurangi/menghilangkan perasaan tak berdaya dan putus asa.
|
· Beri
tanggung jawab untuk melakukan terapi tindakan yang terorientasi.
· Beri
dorongan kepada klien untuk melakukan kegiatan secara teratur atau beri
kebebasan melakukan kegiatan sehingga energi klien dapat
disalurkan.
· Persiapkan
program yang dapat dilakukan dengan baik.
· Tetapkan
tujuan yang realistis, relevan dengan kebutuhan klien dan minatnya serta
difokuskan pada kegiatan yang positif.
· Fokuskan
kegiatan pada saat ini, bukan kegiatan pada masa lalu atau masa dating
· Beri
pujian jika klien berhasil melakukan kegiatan atau penampilannya bagus
· Pertahankan
penampilan atau kegiatan jika mungkin.
· Buat
jadwal exercise fisik dalam rencana keperawatan.
|
|
7
|
Klien mampu untuk melakukan hubungan
interpersonal
|
Sosialisasi akan mengurangi kesempatan
untuk menarik diri dan akan meningkatkan harga diri, melalui pemanfaatan dari
dukungan lingkunagn yang tepat dan menerima.
|
· Kaji
kemampuan klien untuk bersosialisasi dan dukungan yang diperlukan serta minat
klien
· Diskusikan
sumber social yang ada dan dapat digunaka.
· Tunjukkan
kemampuan bersosialisi yang efektif.
· Gunakan
role play dalam melakukan interaksi social.
· Beri
umpan balik dan pujian terhadap kemampuan klien dalam melakukan hubungan
interpersonal yang efektif.
· Beri
dorongan kepada klien untuk meningkatkan hubungan sosialnya dalam lingkungan
yang lebih luas.
· Beri
dorongan dengan penuh kekeluargaan terhadap respon emosional klien yang
adaptif.
· Beri
dukungan dan libatkan dalam terapi keluarga dan terapi kelompok jika
diperlukan.
|
|
8
|
Klien mampu meningkatkan kesehatan fisik
dan kesejahteraannya.
|
Perawatan fisik dan terapi somatic diperlukan
untuk mengatasi perubahan fisik yang terjadi karena gangguan alam perasaan
|
· Lengkapi
pengkajian tentang kesehatan fisiologi klien.
· Bantu
klien untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri terutam kebutuhan nutrisi, dan
kebersihan diri.
· Anjurkan
klien untuk dapat melakukan pemenuhan kebutuhan perawatan diri secara mandiri
jika memungkinkan.
· Berikan
terapi pengobatan.
|
1.4
Evaluasi
Adanya perubahan respon emosi maladaptif kearah
adaptif, dimana klien dapat:
a.
Semua sumber pencetus stress dan persepsi
klien dapat digali.
b.
Masalah klien mengenai konsep diri, rasa
marah dan hubungan interpersonal dapat digali.
c.
Perubahan pola tingkah laku dan respon
klien tersebut tampak.
d.
Riwayat individu klien dan keluarganya
sebelum fase depresi dapat dievaluasi sepenuhnya.
e.
Tindakan untuk mencegah kemungkinan
terjadinya bunuh diri telah dilakukan.
f.
Tindakan keperawatan telah mencakup semua
aspek dunia klien.
g.
Reaksi perubahan klien dapat
diidentifikasi dan dilalui dengan baik oleh klien.
BAB IV
NASKAH ROLE PLAY
Narrator :
Anugrah Dwi Priyono
Pasien :
Diah Puji Lestari
Perawat 1 :
Irvan Herliandi
Perawat 2 :
Siti Marhamah
Ibu :
Ranti Ratna Sari
Ayah :
M. Reksa Satria
Dokter :
Widdy Bagea Munggaran
Di rumah
sakit cinta damai
terdapat seorang pasien yang bernaman Nn.D, menurut orang tuanya Nn.D sudah 8 hari terlihat murung,
sering meningis
tiba-tiba dan kadang dia tertawa-tawa sendiri dan tida jarang dia
berteriak-teriak ini salahku ini salahku dan selama 8 hari itu pasien Nn.D tidak mau berinterkasi dengan
orang sekitar bahkan dia tidak mau keluar kamar karena menurutnya dia sudah tidak
berguna lagi dia sudah menghancurkan hidup orang lain.
Di ruang pasien
Pasien terlihat diam dan menangis
Ibu Pasien :
nak ini ibu bawa makanan kesukan kmu makan dulu ya ?
Pasien
:(hanya
diam tidak memperdulikan )
Ibu Pasien :
anak ku
ayo makan dulu ini ibu sama ayah bawa makanan kesukaan kamu nak?
Ayah Pasien :
iya ini buatan ibu yang sering kamu makan ?
Pasien :
aku tak ingin makan aku hanya ingin mati
Ayah pasien :
jangan seperti itu itu tidak baik nak
Pasien :
sudah jangan banyak bicara kalian gak tau apa yang aku rasakan.
Ibu Pasien :
makanya kamu cerita nak sama ibu
Pasien :
(pasien hanya diam dan menangis )
Ayah Pasien : kenapa kamu nak apa yang kamu
rasakan ?
Pasien :
(aku aku aku jahat )
Tiba
tiba perawat datang untuk memeriksa
keadaan Nn.D
Perawat :
asalamualaikum
Orang tua :
walaaikumsalam
Perawat :
adek kenapa menangis ?
Pasien :
(hanya menangis tak menghiraukan)
Perawat : bapak, ibu adeknya kenapa ?
Ayah :
tidak tahu
dia tiba-tiba seperti itu.
Perawat : oh , iya pak bu adek, sebelumnya
benar ini sama Nn.
D,?
Pasien :
(menganguk )
Perawat :
ade lebih suka di pangil apa dek ?
Pasien :
( menangis )
Perawat :
kalau begitu saya panggil
adek aja yah ? sebelumnya perkenalkan
nama saya
perawat 1 , saya bagian dinas
sekarang dari pukul 8-14:00 dan kedatangan saya kesini saya mau meriksa
keadaan adik yah ? (sambil memegang bahu
pasien )
Ayah Dan Ibu :
iya silahkan
Perawat :
adek kakak periksa dulu yah ? tapi sebelumnya adek kenapa menangis ?
Pasien :
saya merasa sedih saja.
Perawat :sedih
kenapa dek apa yang ade rasakan ?
Pasein :
tidak tau saya hanya ingin menagis
Perawat :
iya saya tau dek biar adek tidak merasa sedih ayo ceritakan apa yang membuat ade sedih ?
Pasien :
kamu tak akan mengerti (sambil membungkukan badan ).
Perawat : ya sudah
kalau
begitu sekarang kita periksa dulu yah ?
Pasien : hanya diam dan terlihat kosong.
ayah pasein :
iya a anak
saya belum tidur sejak dua hari yang lalu dia hanya menangis
saja tidak
mau tidur.
Perawat :
iya pak nanti saya bicarakan dengan
dokter untuk pemberian
obat.
Ayah pasien :
iya, kasian anak saya tidak bisa tidur
Perawat :
iya, sebaiknya adek jangan di tinggalkan yah pak, dan obatnya di minum.
Ayah pasien :
iya
Perawat :
kalo begitu pemeriksaanya sudah selesai saya pamit dulu dek, pak, ibu nanti sekitar 15
menit saya kembali bersama dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut, tapi kalau ada apa-apa bapak bisa panggil saya di ruang perawat
Perawat pun pergi meninggalkan
ruangan menuju ke ruang dokter
Di ruangan dokter
Perawat :
(mengetuk pintu ) asalamulaikum dok
Dokter :
walaikum salam silahkan masuk
Perawat :
dok ini saya mau melaporkan hasil pemeriksaan Nn. D
Dokter :
iya bagimana sekarang keadaan
Nn.D
Perawat :
TTV nya normal dok, cuman pasien masih terlihat lemas, sering melamun, dan kosong , dan dia sering menyalahkan dirinya
sendiri dok, bahkan menurut keluarganya dia sudah dua hari belum tidur dia hanya menangis saja dok, dan tidak mau bicara.
Dokter :
baik kalo begitu mari kita ke ruangan Nn. D , untuk memeriksa lebih lanjut
Perawat :
mari dok
Dokter
dan perawat pun pergi menuju ruangan pasien
Dokter :
asalamualaikum
Keluarga :
walaikum salam dok
Dokter :
ibu saya mau memeriksa adiknya dulu silahkan ibu dan bapak tunggu di luar
Pasien :
sayang tak mau di tinggalkan kelurga saya
Dokter :
baik kalo begitu ibu dan bapak di sini saja
Kelurga :
iya dok
Dokter :
ade saya periksa lagi yah biar adek cepat sembuh
Pasien :(diam dan hanya menangis)
Dokter :
(sambil memeriksa bertanya ) adek
kenapa menangis terus dek?
Pasien :
(menoleh dan menatap dokter ) saya
salah dok saya salah
Dokter :
salah apa dek kenapa ?
Pasien :
tidak ada kalian tidak mengerti
Dokter :
ya sudah
kalau belum mau cerita, ade makan obatnya yah biar adek cepat sembuh ?
Pasien :
tidak mau dok saya sudah tak pantas lagi hidup
Dokter
: jangan seprti itu dek itu tidak baik
Pasien :
sudah lah keluar saja sanah
Dokter :
ya sudah kalau belum mau ceraita saya
pamit dulu , yah
bapak
ibu , adek nya jangan di tinggalain
yah bu, pak
Keluarga :
iya dok terimaksih.
Perawat dan dokterpun pamit dari
ruangan itu
Dokter : kang kan pasien Nn.D belum tidur
udah dua hari ini resep obat untuk Nn.D agar dapat tidur.
Perawat : iya dok, kalau begitu saya pamit
dulu untuk memberikan resep kekeluarga pasien.
Perawat
1 pun pergi meninggalkan ruangan dokter untuk memberikan resep obat ke kekuarga
pasien
Perawat 1 :
ibu ini resep obat yang harus diambil.
Ibu :
iya baik
Ketika
ibu pergi mengambil obat, perawat 1 pun pergi ke ruang perawat untuk pertukaran
shift
Perawat 1 : teh, sebelum pertukaran shift tadi ada
resep dari dokter untuk di berikan ke Nn.D pukul 16.00.
Perawat 2 :
oh iya kang , kalau begitu mari kita operan.
Perawat
1 dan 2 pun perig ke ruang pasien untuk melakukan operan
Perawat 1 :assalamualaikum, de, bu, pak, sekarang
waktunya pertukaran shift, saya akan di gantikan oleh teman saya perawat 2.
Perawat 2 : iya pak sekarang saya bertugas diruang
ini menggantikan perawat 1.
Perawat : kalau begitu kita kembali keruangan
dulu ya pak bu, assalamualaikum..
Ibu dan ayah :
waaliakumsalam
Setelah
pertukaran shift perawat 1 dan 2 pun kembali ke ruang perawat
Dan
perawat 2 akan memberikan obat pada Nn.D yang sudah diresepkan oleh dokter.
Perawat 2 : tok tok tok assalamulaikum , ade
sekarang jadwalnya untuk memberikan obat ya, karena ade katanya belum
tidur-tidur ya?
Pasien :
(hanya diam)
Perawat 2 :
de, ini obat mau saya suntikan dulu iya.
Pasien : (menolak dan langsung merebut spuit berisi
obat yang di bawa perawat)
Perawat dan keluargapun kaget
Pasien : tak ada gunanya aku terus diberikan obat seperti
ini, lebih baik aku mati, aku tak sanggup menahan beban ini, aku merasasalah
bu, aku telah menghancurkan hidup seseorang.
Ibu pasien : nak tenang sayang, suster Cuma mau
kasih obat saja.
Perawat 2 : iya de, sebentar saja kok,.
Pasien : saya tidak mau sus, tidak mau, saya yang salah sus.
Perawat 2 : baiklah kalau begitu sekarang ade
tenang ya, coba sekarang ade ceritakan apa yang membuat ade merasa selalu
bersalah? Kita ngobrol-ngobrol sebentar mau?
Pasien : iya sus, boleh.
Perawat2: iya sekarang kita ngobrol sebentar
iya, ade mau berapa lama kira kira? Bagaimana kalau kita coba ngobrol 10 menit
saja bisa?
Pasien : iya sus, boleh
Perawat2 : kalau begitu coba sekarang ade
ceritakan masalahnya.
Pasien : aku bingung sus, aku takut dengan kesalahan yang
menghantuiku, kemana pun aku pergi selalu di hantui rasa bersalah, aku dah
jahat, aku dah bikin dia meninggal sus.
Perawat2 : emm sebenarnya apa yang dah ade
lakukan sehingga ade selalu merasa bersalah?
Pasien ; dia dulu pacar aku sus, tapi hubungan kita kidak
direstui oleh orang tua saya, sampai akhirnya saya memutuskan untuk berpisah
dengan dia, tapi dia gak terima, hingga akhirnya dia terjerumus dalam pergaulan
yang tidak benar, pada suatu saat dia over dosis dan nyawa dia tidak tertolong,
dan dia meninggal sus.
Perawat 2 : ohh jadi itu yang membuat ade
menjadi selalu merasa bersalah?
Pasien : iya sus, jika aku tidak memutuskan dia, mungkin ini
semua tidak akan terjadi, dia tidak akan terjerumas dalam hal seperti itu, yang
membuat dia jadi tak tertolong.
Perawat 2 : ade sebenarnya ini bukan sepenuhnya
kesalahan ade, dia meninggal karena akibat dari ulah dia sendiri, dia telah
memutuskan buat menganbil jalan yang salah. Jadi ade jangan pernah salahkan
diri ade ya? Ade harus tetap semangat, dan berhenti menyakahkan diri sendiri.
Kasian ayah sam ibu ade, mereka juga sedih melihat kondisi ade sekarang.
Pasien : emmm terima kasih ya sus, sekarang saya bisa lebih
paham, saya juga akan mencoba untuk berhenti menyalahkan diri saya.
Perawat 2 : iya,, bagaimana apakah ade sekarang
sudah merasa lebih tenang?
Pasien ; iya sus sudah, terimakasih ya sus..
Perawat 2 : iya sama sama
Ibu dan ayah : sus terimakasih ya sudah membantu
menenangkan anak saya
Perawat 2 : iya bu, pak, kalo begitu saya
permisi pamit keluar dulu iya, jika ada apa-apa silagkan panggil saya.. assalamualaikum.
Ibu dan ayah : walaikumsalam
Setelah
menceritakan masalahnya dan diberi pengarahan oleh perawat 2 pasien pun mulai
tenang, dan mulai menyadari untuk berhenti menyalahkan diri sendiri, hingga
akhirnya pasien pun berusaha untuk mulai berinteraksi lagi dengan sekitar.
TAMAT
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Alam perasaan adalah keadaan emosional yang
berkepanjangan yang mempengaruhi seluruh kepribadiaan dan fungsi kehidupan
seseorang ( Stuart 2006).
Gangguan alam perasaan adalah kelainan psikologis
yang ditandai meluasnya irama emosional seseorang, mulai dari rentang depresi
sampai gembira yang berlebihan (euphoria) dan gerak yang berlebihan (agitation).
Depresi dapat terjadi secara tunggal dalam bentuk mayor depresi atau dalam
bentuk lain seperti mania sebagai gangguan tipe bipolar. Depresi terdapat
klasifikasi dan tingkatan nya. Tanda dan gejala yang timbul pada depresi bisa
bermacam-macam karena tiap individu itu unik.
Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya
depresi. Bisa karena faktor prepitasi maupun faktor prediposisi. Asuhan
keperawatan yang dibeikan pada pasien berbeda-beda. Hal ini dikarenakan pasien
dengan gangguan alam perasaan menunjukkan pribadi yang unik.
5.2 Saran
Sebagai tenaga profesional tindakan perawat dalam penangan masalah
keperawatan khusunya klien dengan Gangguan Alam Perasaan harus memiliki
pengetahuan yang luas dan tindakan yang dilakukan harus rasional sesuai gejala
penyakit dan asuhan keperawatan hendaknya diberikan secara komprehensif,
biopsikososial cultural dan spiritual.
Kesehatan jiwa dapat didapatkan dengan
jalan ada kesinkronan antara pasien, keluarga dan tenaga medis dalam upaya
proses penyembuhan. Jika salah satu dari komponen tersebut, maka akan
menghambat proses penyembuhan.
DAFTAR PUSTAKA